Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Cinta dari Benci

Cinta dari Benci

Cinta dari Benci


Aku Ryan, aku berumur 20 tahun, aku bekerja di sebuah software house sebagai programmer. Pekerjaan ini selalu menuntutku untuk bekerja malam yang membuatku selalu menyempatkan diri untuk menikmati indahnya langit di malam hari.

Mendengar lagu dan selalu memikirkan apa yang akan terjadi di masa depan adalah sesuatu kebiasaanku waktu itu, terkadang melakukan pekerjaan itu setiap hari membuat ku merasa bosan dan sesekali aku membuka game untuk menghilangkan rasa bosanku

ikatan cinta

Sebenarnya aku adalah gamers, aku selalu menghabiskan waktu luangku untuk bermain game online. Kebanyakan aku mengenal banyak orang dari dunia maya, tapi aku mulai bosan dengan semua itu. Suatu hari aku menemani ayahku untuk pengurusan E-KTP di kecamatan, aku melihat teman smpku juga mengurus ktp waktu itu.



Aku mendekatinya dan berdiri tepat di sampingnya..



“ Maaf, bukankah kamu Rani ? Aku rasa kita pernah se SMP waktu dulu.. “



“ Ya aku tahu, tapi aku lupa namamu? “



“ Wajar sudah beberapa tahun yang lalu, banyak yang berubah bukan? “



Kami berbincang dan saling mengenal satu sama lain, dia mengatakan aka nada reuni kecil-kecilan akhir pekan itu, dia memberikan nomer hp nya untuk kabar selanjutnya. Pengurusan KTP pun selesai dan dia pulang dengan dijemput kekasihnya. Tak lama kemudian aku dan ayah juga pulang setelah pengurusan selesai.



Sepulang dari rumah, malam harinya aku bekerja untuk menyelasaikan pekerjaanku dan aku berpikiran untuk meminta facebook Rani untuk mengetahui teman SMP yang lainnya.



Isi sms:



“ Aku Ryan, kita bertemu siang tadi, maaf jika mengganggu tapi apakah boleh aku meminta alamat facebookmu..?? “



“ Iya Yan , ini alamat facebookku, RanieDw*** “



“ Oke, terima kasih ya Ran ..”



Tak lama setelah aku membukan facebooknya, aku menemukan beberapa teman SMP, aku mendapatkan salah satu nomer teman smpku, dia bernama Tania. Di lain waktu aku menghubunginya untuk sekedar bertanya tentang reuni.



Kami menjadi akrab hanya dengan chatting dan sms, beberapa hari kemudian sehabis magrib kami bertemu di warung orang tuanya. Pertemuan intu membuat kami semakin akrab, hari semakin larut jadi aku putuskan untuk kembali kerumah.



Tepat hari sabtu acara reuni diadakan, aku mendapat sms dari nomer yang tak kukenal, ternyata dia adalah salah satu teman smpku,



Isi sms:



“Kamu jadi ikut reuni? Eka Wuland.”



Entah kenapa entah kenapa aku ingat betul akan nama tersebut dalam sekejap aku ingat wajahnya. Dalam batinku berbicara “benar dia orang yang pernah aku benci waktu smp dulu”



Isi sms:



“Dari mana kamu mendapatkan nomerku?”



“Dari Tania yan, aku mau berangkat ke acara reuni, ketemuan di warung nya Tania yah…”



“Iya, aku juga mau berangkat..”



Setelah sampai di warung Tania, aku melihat Eka datang dengan lelaki bernama Bambang , aku berpikir itu pacarnya karena mereka selalu bersama waktu smp.



Eka : Hy yan, gimana kabarmu?



Ryan : Baik, jadi kamu datang berdua dengannya?



Eka : Iya yan, kamu sendirian saja?



Ryan : Ya, bisa dibilang begitu, “dengan wajah senyum



Tak lama kemudian Tania dan Lelaki itu juga ikut berbingang dengan kami,



Tania : Semuanya sudah datang ya, maaf yah acara reuninya diadakan di rumahku saja, karena warung sedang ramai.



Bambang : Kami mengerti Tan, ya sudah kita berangkat ke rumahnya Tania..







Eka membonceng Tania, dan aku membonceng Bambang. Kebetulan rumahnya tidak jauh dari warung. Saat diperjalanan aku berbincang dengan bambang, aku bertanya mengenai hubungan mereka. Bambang bilang mereka hanyalah teman, sudah lama putus.



Sesampai di rumahnya Tania, kami berkumpul dan berbincang, tak lama kemudian teman SMP yang lain datang, termasuk Rani. Suasana semakin ramai, Tania memesan kopi di warung dekat rumahnya. Karena aku akrab dengannya aku ingin membantunya.



Kami berdua pun pergi ke warung, dan setelah kembali teman-teman berpikir kami sudah berpcaran, padahal baru kenal seminggu yang lalu. Tak lama kemudian, Tania mengungkapkan kepadaku jika dia menyukaiku, dan dia berharap bisa jadi pacarku.



Aku menjawab iya, karena mungkin aku merasa kesepian dan hanya dia yang baik padaku, hari berlalu reuni kedua diadakan. Saat berkumpul kembali teman-teman sudah mengetahui tentang hubungan kami. Seperti biasa kami melakukan reuni, hanya sekedar berkumpul dan menghabiskan waktu bersama.







Sewaktu kerja, aku menerima chatting dari Eka,







Eka : Maaf, aku tidak yakin kamu menyukai Tania, karena sikap dinginmu padanya..



Ryan : Semua yang kau lihat belum tentu benar, hanya aku yang tahu soal itu..







Dalam benakku “Kenapa dia tahu tentang perasaanku yang seperti ini ? “



Suatu saat, aku pergi berkunjung ke temanku yang juga bekerja di software house, aku bertemu dengan sahabatku waktu SMP yang kebetulan dulu juga pernah ikut reuni, kami saling menanyakan kabar dan dia bercerita banyak waktu itu.



Nizar : Jadi kau masih bermain game online?



Ryan : Aku hanya merasa jenuh terus menerus menyelesaikan projectku..



Nizar : Haha, aku tahu kok son, kamu memang selalu menghabiskan waktumu seperti ini,



Aku dengar kau jadian ya sama Tania?



Ryan : Bisa dibilang seperti itu, dan soal hubungan asmaramu bagaimana?



Nizar : Saat ini aku sedang dekat dengan Eka, masih dua minggu,” Sambil tertawa







Seminggu berlalu, aku masih berhubungan dengan Tania, namun aku sadar dia terlalu kekanak-kanakan. Perkiraanku selama ini tentang dia adalah salah. Memutuskan nya lebih baik daripada harus menuruti semua keinginannya yang berlebihan.



Reuni yang rutin dilakukan dua minggu sekali, saat itu Eka tidak datang. Aku bertanya pada Nizar kenapa dia tidak bisa datang.



Ryan : Apa kau tahu kenapa Eka tidak datang?



Nizar : Dia bilang ada masalah pribadi, tadi dia bbm aku seperti itu.



Ryan : Hmm, jadi gitu ya.. aku sebenarnya sudah lama membenci Eka, tapi aku tidak tahu apa alasanku membencinya, aku harap kau tidak jadian dengannya, aku tidak sudi..



Nizar : Aku kaget mendengarnya, tapi dia gadis yang baik, dia tidak seperti yang kau bayangkan.. dan aku tidak menyukainya, jadi tidak mungkin aku jadian dengannya..



Ryan : Tapi aku tidak yakin tentang dia,







Setelah pulang ke rumah, tidak tahu kenapa aku selalu terpikir tentang Eka, lalu aku mencoba menelponnya. Kami saling berbincang-bincang lewat telpon waktu itu, memang dia ada masalah.



Aku berbicara padanya mengenai apa yang aku rasakan dan aku pikirkan tentang dia.



Melalui telepon:



Eka : Kenapa kamu bisa tahu tentang masalahku?



Ryan : Aku tadi bertemu dengan nizar, dia sedikit menceritakan tentang masalahmu. Aku hanya ingin sedikit membantumu..



Eka : Terimakasih yan atas simpati mu, tapi sekarang aku sekarang sedang tidak ingin di ganggu.



Ryan : Oh baiklah, nanti boleh ga aku ketemu dengan kamu?



Eka : Iyah boleh.



Beberapa hari berlalu, kami ketemuan di café kami saling bertatap muka. Aku sedikit grogi, kami berbincang satu sama lain namun itu pertama kalinya kita berbicara panjang.



Setelah mengetahui masalahnya seperti itu, aku meminta maaf karena sudah membencinya selama ini, dia sedikit terkejut mendengar pengakuanku. Namun dia memaafkanku.



Kami akhirnya pulang, kami sering menghabiskan waktu bersama jika ada waktu luang. Suatu saat dia bilang pernah menyukai Nizar namun dia tahu nizar tidak pernah menyukainya, aku turut prihatin padanya.



Ryan : Maaf mungkin ini akan menggagumu, tapi aku akan bilang.



Eka : Tak apa, bilang saja,, emangnya apa ?



Sony : Aku menyukaimu dan aku berharap bisa menjadi pacarmu, tapi jika itu mustahil bagiku, aku akan mengerti...



Eka : Aku tahu Tania adalah temanku dan sekarang mungkin dia akan berpikir aku merebutmu dari dia.. meski kalian sudah tidak ada hubungan lagi.. tapi jika kau berani bilang padanya jika kau menyukaiku, aku akan menerimamu.. tapi aku tidak ada perasaan sama sekali tapi aku akan mencoba untuk menumbuhkan perasaan ini..







Tepat malam tahun baru, aku mengatakan hal itu pada Tania, meski aku tahu dia akan membenciku, tapi aku harus mengatakannya.







Mendengar apa yang aku katakan, Eka tidak mempercayainya aku berani bilang hal itu pada Tania. Tapi itulah kenyataanya, tepat tanggal 3 Januari awal tahun, kami jadian. Kami sering keluar, dan menghabiskan waktu bersama, meski perasaanku tidak terlalu besar padanya, karena aku ini orang yang sulit mencintai orang lain.







Suatu malam, sepulang dari mall kami duduk di taman tak jauh dari parkiran.







Eka : Terima kasih untuk hari ini ya, aku senanng kamu mau menemaniku. “sambil tersenyum “



Ryan : Tidak masalah, aku juga senang menemanimu, jadi terima kasih kembali yah.







Kami berbicara lumayan lama, dan tanpa sengaja kami berbicara mengenai perasaan..







Eka : Aku minta maaf, sampai saat ini aku masih mengharap mantan kekasihku, meski kita sudah jalan.. aku masih sangat mencintainya, karena aku salah di masa lalu ..







Aku berpikir dan tersenyum padanya dan aku mengatakan.







”Semua bukan salahmu, cinta itu tidak bisa dipaksakan, sejak awal aku tahu ini akan terjadi, aku hanya ingin membantumu melewati semua ini, tujuanku hanyalah menghilangkan kesedihan dan trauma di masa lalu, tidak peduli apa yang aku rasakan sakit atau tidak, yang terpenting kau bahagia, karena aku tahu bagaimana perasaanmu.. “







Mendengar hal itu dia hampir menangis, dan merasa bersalah padaku. Memang sejak awal aku hanya ingin membantunya melewati semua itu, tapi aku tidak pernah menyangka perasaanku akan selalu tumbuh meski dia wanita yang pernah aku benci.







Sahabatku mengerti aku jadian dengan Eka, dia sedikit kaget tentang hal itu, dia berpikir bagaimana bisa seorang yang aku benci menjadi seorang yang aku cintai, tapi sahabatku mengucapkan selamat untuk hubungan kami.







Tania masih berharap padaku, dia selalu mengirimkan sms betapa dia menginginkan kesempatan kedua dariku, tapi aku sudah tidak bisa karena sudah sejauh ini, jadi mustahil bagiku menyerah.







Pada suatu hari Eka ingin bertemu denganku, namun keadaan waktu itu hujan lebat, aku bilang padanya untuk bertemu lain hari, tapi dia tidak mendengarkan.







Dia pergi dan menungguku di dekat rumahku waktu itu, aku kaget melihat sikapnya seperti itu. Hubungan kami tak terasa sudah begitu lama, dan suatu saat kami pergi ke kaki gunung untuk menikamti pemandangan bersama..







Ryan : Pada akhirnya keinginanku terkabulkan..



Eka : Apa maksudmu?



Ryan : Sejak dulu aku ingin melihat pemandangan seperti ini dengan orang yang aku cintai, dan sekarang terkabul.. mungkin terdengar aneh bagimu, tapi terima kasih yah..(sambil tersenyum)



Eka : Sama-sama, aku juga mau berterima kasih sudah mengisi hari-hariku, jadi aku tidak harus sendirian lagi..







Aku memegang tangannya dan menatap wajahnya, sambil tersenyum aku mengatakan..







Ryan : Dengar yah sayang, kau tidak harus berterima kasih, aku hanya ingin membantumu melupakan perasaan trauma dan rasa salahmu akan masa lalumu, aku berharap kau bisa mencintaiku kelak, jika tidak, aku harap kau bisa menemukan orang yang bisa membuatmu bahagia.. setidaknya aku tidak menyerah dan melakukan hal bodoh seperti masa laluku..







Dia menangis mendengar apa yang aku katakan, dia bilang juga mencintaiku dan ingin bersama denganku untuk setiap waktunya. Hari itu kami berjanji untuk menjalin hubungan sampai menikah, tidak peduli apa yang akan terjadi.







Tak lama kemudian, aku memberikan boneka yang cukup besar untuknya, melihatnya mulai tersenyum lagi, dan mulai melupakan masa lalunya, membuatku lega. Tanpa aku sadari, aku telah meninggalkan kebiasaan bermain gameku, dan mulai menghabiskan waktu dengannya juga teman-temanku.







Mantan kekasihku satu persatu mulai berdatangan, aku berpikir mungkin itu cobaan akan hubungan kami, tak sedikit air mata yang keluar dari kekasihku dan juga diriku, hanya untuk saling menepati janji meski ada hal yang membuat kami saling tersakiti.







Sekarang aku sadar, jangan pernah menyerah sampai akhir, dan cinta itu muncul bukan dari kemauan kita sendiri, tapi tanpa kita sadari kita ingin selalu bersamanya,dan terkadang ada ikatan batin satu sama lain.







Jangan menyesali masa lalu tidak akan pernah bisa diubah, lebih baik menjalani masa depan itu dengan sebaik mungkin, agar kita tidak kehila.













Sebuah Amanah Baru

Sebuah Amanah Baru

Sebuah Amanah Baru

Oleh: Ivan Sulistyo Suratno
Pada pagi hari yang cerah. Berangkatlah anak muda yang keren,gembira,asyik dan juga pandai untuk pergi kesekolah. Ia mempersiapkan diri untuk melaksanakan ujian di hari akhir dengan semangat dan giat belajar pada hari sebelumnya. Di jalan ia bertemu dengan temanya dan saling sapa dan berjaba tangan.
Sesampainya di sekoah ia langsung masuk kelas dan mempersiapkan barang-barang yang akan diperguankan untuk kegiatan ujian. Seorang anak pramuka yang baru saja menyelesaikan ujian di hari akhir, tiba-tiba ia di panggil oleh temanya.

cerita pendek bertemakan amanah


“Hey usman sini man, ada yang mau aku bicarakan kepadamu.” Seru temanya.

“Oh iya ada apa ali ?? ” kata usman.

“Kamu di panggil oleh bapak pembina tadi. Cepat kamu kesana, kamu di tunggu di depan ruang informasi.”
Seketika usman bingung, tak biasanya usman di panggil oleh bapak pembina.

Setibanya usman di depan ruang informasi, yang di sana bapak pembina telah munuggu usman dengan wajah yang sanggar dan juga garang. Membuat hati usman semakin tidak enak dan juga detakan jantung usman bertambah cepat hingga susah untuk di kendalikan. Setibanya di hadapan bapak pembina usman di persilakan untuk duduk di depan bapak pembina. Usman di tanya-tanya tentang kegiatan, pengalaman dan pengetahuan usman terhadap kegaiatan pramuka. Usman menjawab semua pertanyaan bapak pembina dengan lancar tegas dan tidak terbata-bata. Hingga saat bapak pembina juga bertanya.

“Usman menurut kamu siapa diantara anak pramuka yang tepat/pantas untuk menjadi seorang ketua di pramuka di sekolah ini ?? ” tanya bapak pembina.

Usman pun menjawab. “emmm yang cocok untuk menjadi ketua pramuka di sekolah ini mungkin ali pak.”
Bapak pembina mulai menambah banyak pertanyaan lagi terhadap usman. Hingga saat bapak pembina menyatakan/menggeluarkan pernyataan.

“Man kamu adalah anak yang tepat untuk menjadi seorang ketua di pramuka. Terlihat dari bagaimana bapak telah bertanya banyak pertanyaan kepadamu dan kamu mampu menjawab pertanyaan bapak ”
Seketika usman kaget dan binggung apa yang harus dia lakukan, apa yang harus ia perbuat untuk menjadi seorang ketua. Usaman pun tak ingin menjadi seorang ketua.

“Waduh pak kenapa harus saya, saya tak mau pak untuk menjadi seorang ketua lagi pula ilmu,pengetahuan dan keterampilan saya dalam pramuka juga belum terlalu saya kuasai. Saya mohon pak jangan jadikan saya sebagai ketua, dan masih banyak teman ¬¬¬¬¬¬ yang memiliki ilmu lebih di bandigkan dengan saya.” Seru usman kepada bapak pembina.

Usman pun bingung,takut,malu dan taktau apa yang harus ia lakukan. Dan apalagi jika ada anak/anggota pramuka yang tidak nurut atau menghargai seorang pemimpin.

Bapak pembina pun juga memberi saran/arahan kepada Usman.

“Jadi seorang pemimpin itu harus belajar, lihatlah pak Joko Widodo dulu dia adalah seorang walikota di daerah jawa tengah, lalu dia dapat menjadi seorang gubernur di jakarta dan kini pak Joko Widodo menjadi tokoh ternama di Indonesia. Dia menjadi seorang presiden. Nah maka dari itu usman harus belajar memimipin, supaya nanti kalau sudah besar usman sudah terbiasa memimpin dan mudah mudahan usman juga bisa sepeti bapak jokowi. Nah jadi ketua juga harus menggerti keadaan/perasaan yang sedang di rasakan oleh anggotamu. ”

Setelah mendengarkan penjelasan dari bapak pembina Usman pun masih ragu dengan keputusan yang akan di ambil oleh Usman. Apakah dia mau menjadi seorang ketua di pramuka atau tidak akan mau untuk menjadi seorang ketua.¬¬¬¬

Tak lama kemudian hati Usman pun terbangun dia berfikir dalam benak fikirannya ‘jika tidak ada yang memimpin mau di bawa keman pramuka di sekolahan ku ini.’ Degan kesunguhan hati usman pun bersedia untuk menjadi seorang ketua di pramuka.

“Pak insya allah dengan ini saya siap untuk menjadi seorang ketua di pramuka. Semoga amanah dari bapak ini dapat menjadikan saya menjadi orang yang bisa membanggakan di hari ini dan sampai kemudaian hari.” Kata usman.

“Ok Usman tetap semangat dan sabar dalam membawa amanah. tingkatakan prestasimu baik akademik mapun non-akademi.”

Lalu Usman pamit pergi meninggalkan bapak pembina untuk kembali kerumah. Dengan amanah baru ini usman akan memipin kurang lebih satu periode kedepan di kegiatan pramuka di sekolahnya.
Jatuh Dari Sepeda

Jatuh Dari Sepeda

Jatuh Dari Sepeda

Oleh: Fahmi Mulyani

Entah apa yang saat itu aku pikirkan atau mungkin karena aku yang terlalu senang, tiba-tiba saja aku terjatuh dari sepeda yang aku kendarai. Aku tidak melihatnya, batu yang lumayan besar baru saja kutabrak. Akibatnya, kepalaku benjol dan kedua lututku lecet. Lemas, pusing, dan rasa sakit yang saat itu kurasakan.


Cerita pendek tema sepeda

Saat itu aku berumur 7 tahun, dan aku baru masuk Sekolah Dasar. Budi dan Tono adalah teman sekelasku, dan mereka duduk satu bangku denganku. Budi dan Tono memiliki hobi yang sama, yaitu bersepeda. Setiap pulang sekolah mereka selalu mengendarai sepedanya mengelilingi kampung. Sepertinya asik melihatnya bersepeda. Aku juga ingin bisa bersepeda, tetapi aku tidak bisa mengendarainya. Suatu hari, Budi dan Tono datang ke rumahku untuk mengajakku bermain sepeda.

“Fahmi, main yuk!” seru Budi dan Tono.

“Eh Budi, Tono. Main kemana?” tanyaku.

“Kita sepedahan yuk ke lepangan,” ajak Budi.

“Tapi aku gapunya sepeda.”

“Pake yang aku aja dulu, nanti gantian.”

“Yaudah hayu!”

Lalu kami pun berangkat ke lapangan. Meskipun aku belum bisa bersepeda, tapi Budi dengan sabar mengajariku. Sedikit demi sedikit aku mulai lancar bersepeda. Ternyata tidak terlalu sulit untuk mengendarainya. Mulai saat itu setiap pulang dari sekolah, Budi dan Tono datang ke rumahku untuk mengajakku bermain sepeda.

Di umur 8 tahun tepatnya pada tanggal 15 November 2007, ayahku membelikanku sepeda. Senang rasanya Allah swt. telah mengabulkan doaku. Aku pun tidak lupa untuk mengucapkan rasa syukurku kepada-Nya. Sekarang aku tidak lagi harus meminjam sepeda kepada Budi ataupun Tono untuk bersepeda. Meskipun sepedaku tidak begitu mahal, tetapi aku sangat menyukai sepeda yang dibelikan oleh ayahku.

Libur akhir tahun telah tiba. Selama liburan, aku lebih sering menghabiskan waktuku bersama Budi dan Tono. Waktu itu hari minggu, kami bersepeda jauh sekali sampai ke kampung tetangga. Kami juga mengunjungi rumah-rumah teman sekelas lainnya dan mengajaknya untuk bermain. Suasana menjadi tambah ramai ketika teman sekelas yang lainnya ikut bergabung. Karena banyak sekali teman yang ikut bermain, lalu Budi membeli bola, dan kami pun pergi ke lapangan untuk bermain bola. Senang rasanya bermain bola dengan mereka, dan itu merupakan hari liburanku yang sangat mengasyikan. Hari sudah senja, aku dan teman-temanku pun bergegas untuk pulang. Aku, Budi, dan Tono pulang mengendarai sepeda. Angin berhembus begitu kencang menerpa wajahku. Rasa lelah terasa seperti hilang direnggut angin. Tiba-tiba terlintas di pikiran Budi untuk mengajakku dan Tono untuk balap sepeda.

“Eh Ton, Mi, kita balapan yuk! Siapa yang nyampe masjid duluan dia yang menang.” Ujar Budi.

“Aku sih hayu aja, kamu gimana Ton?” tanyaku kepada Tono.

“Boleh, tapi ga seru kalo yang menang ga dapet apa-apa. Nanti aku yang rugi lah!” jawab Tono dengan wajah percaya dirinya .

“Kaya yang mau menang aja kamu Ton!” balas Budi sambil tertawa.

“Yaudah gini aja! Yang nyampe masjid duluan, dia dipijitin sama dua orang yang nyampe masjidnya belakangan. Gimana?” kataku.

“Siapin aja tangan kalian buat mijit-mijit kakiku!” jawab Tono sambil tertawa kecil.

“Buktiin aja Ton!”

Balapan pun dimulai, kukayuh sepedaku dengan kecepatan tinggi tanpa memikirkan apa yang akan terjadi. Di tengah perjalanan, aku berada paling depan. Jarak antara aku, Budi, dan Tono lumayan cukup jauh. Masjid sudah terlihat tepat di depan mataku kurang lebih 20 meter lagi. Aku melamun dan membayangkan Budi dan Toni memijat kakiku. Karena tidak fokus dengan mengendarai sepedaku tiba-tiba saja aku terjungkal. Tanpa aku sadari ternyata aku telah menabrak batu yang lumayan besar. Aku lemas dan tak berdaya, badanku terasa kaku untuk digerakkan. Tak lama Budi dan Tono datang menghampiriku.

“Mi, kamu gapapa?” tanya Budi dengan paniknya.

“Kaki kamu berdarah,” ujar Tono kepadaku.

Kemudian Budi bergegas ke rumahku untuk memberitahukan berita ini pada orangtuaku, sementara Tono menggandengku dan memindahkan sepedaku ke bahu jalan. Untungnya pada saat itu tidak ada yang melihatku saat aku terjatuh, jadi aku tidak terlalu malu. Tak lama ayahku datang dengan sepupuku, lalu aku digendong oleh ayahku dan sepedaku didorong oleh sepupuku. Budi pun merasa bersalah karena telah mengajakku untuk balapan.

“Maaf yah, Mi. Gara-gara aku udah ngajak kamu balapan kamu jadi jatuh dari sepeda,” ujar Budi dengan tampang rasa bersalahnya.

“Bukan salah kamu kok, Bud. Gausah minta maaf, emang akunya aja yang ceroboh.”

Sepeda yang ayahku belikan, kini rusak tak bisa dikendarai lagi. Sesampainya di rumah, aku mengira jika ayahku akan memarahiku karena sepeda yang ia belikan telah rusak. Ternyata ayahku justru malah mengambil air panas dan kain, lalu lukaku dibersihkan. Setelah lukanya dibersihkan, ayahku menasehatiku.

“Kalo bawa sepeda itu yang bener, fokus bawa sepeda aja. Jangan mikirin yang lain!” ujarnya.

Keesokan harinya, ketika aku membuka jendela kamarku. Terlihat sebuah sepeda yang tidak asing lagi bagiku. Tidak salah lagi, itu adalah sepedaku hanya saja warnanya telah diubah. Sepeda yang tadinya rusak, seolah-olah telah disihir oleh ayahku terlihat seperti baru lagi. Kini aku tidak lagi harus sedih dengan sepedaku, dan aku tidak akan pernah melupakan nasehat ayahku.
Cerita Pendek Akibat yang Kuterima

Cerita Pendek Akibat yang Kuterima

Akibat yang Kuterima

Oleh Shaliana Putri Chaerul

Kubuka mataku, aku terbangun lagi untuk kesekian kalinya karena hal yang sangat menakutkan itu . ‘Ah nafasku berat sekali, badanku, oh Tuhan tolong jangan, jangan lagi’ batinku. Aku takut, sungguh takut. Badanku.... terasa seperti ada…. yang menindihnya. 'Kenapa ini selalu terjadi?' batinku lagi 'Ya Allah tolong aku, kumohon'.

contoh cerpen

***
"Hoaaaammmm...." Ku buka mulutku lebar-lebar mencoba menarik oksigen agar masuk kedalam paru-paruku ini. Kukerjapkan mataku berkali-kali guna menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retina mataku. Sudah pagi ternyata, "Hah?! Pagi?! Ahhhh aku kesiangaaaaan..." Ya begitulah hidup anak kos yang selalu hidup mandiri, menjalani hirup pikuk nya kehidupan.
Hai, namaku Karina aku adalah mahasiswa tingkat 2 di salah satu universitas di Bandung lebih tepatnya di ITB (Institut Teknologi Bandung). Aku berada di fakultas seni rupa dan desain, ya aku sangat senang dengan hal yang berbau seni baik desain, fotograph, melukis, dan yang lainnnya. Sebenarnya aku anak yang lumayan rajin, tapi akhir-akhir ini aku jadi malas melakukan sesuatu yang harusnya aku kerjakan. Jujur, akupun bingung ada apa dengan diriku ini, aku merasa ada sesuatu yang merasuki tubuhku, sehingga aku lebih sering bermalas-malasan, bahkan tak jarang aku meninggalkan ibadah hanya karna aku terlalu cape dan malas untuk melakukan aktifitas itu. Dan kau tau semua kemalasanku itu ada akibatnya, terutama saat aku malas untuk beribadah.
***
[20 Oktober 2011]
Hari ini aku menjalani aktifitas seperti biasa, bangun kesiangan karna sifat malas dan kantuk yang melanda tubuhku ini.

"Hai Arin!" sapa remaja perempuan yang seumuran denganku itu.

"Hai Cassy..." jawabku lesu.

"Hei kamu ini kenapa rin? Lagi galau? Em… Mau kuhibur? Akhir-akhir ini kamu aneh banget, jadi pemalas dengan kantung mata yang sangat ieww… tak pantas diperlihatkan sama sekali." Tuturnya.

‘Issshhh….. Cerewet sekali anak ini’ batinku.

"Diamlah Cass, mulutmu hanya membuat kepalaku makin pusing." Akupun berjalan menghiraukan dirinya yang masih sibuk menanyai keadaanku yang makin hari makin lesu dan ‘aneh’ menurutnya.
Aku memasuki kekas pertamaku pagi ini, sungguh sebenarnya aku sangat malas dan mengantuk pagi ini tapi sayang sekali jika bayaran perbulan ku kubiarkan begitu saja. Ku paksakan mata dan pikiranku untuk fokus kepada penjelasan dosen. Tapi entah kenapa aku terus memikirkan kejadian semalam dan malam-malam sebelumnya. ‘Ah.. aku mulai frustasi’
Sejujurnya aku butuh teman untuk sekedar mendengarkan ceritaku yang mungkin ‘tidak masuk akal’ ini. Tapi apa daya, jika aku menceritakan hal ini ke teman-temanku mungkin mereka akan tertawa terbahak-bahak, menganggap bahwa aku sedang membuat lelucon. Sebenarnya ada salah satu temanku yang mungkin saja percaya akan hal yang aku alami akhir-akhir ini, tapi aku tak begitu yakin menceritakannya karena kami memang tak begitu dekat dan dia sangat terlihat dingin dimataku karna dirinya selalu menyendiri.

Namanya Vindha, dia sangat tertarik dengan hal-hal yang berbau mistis. Dia juga sering menyempatkan dirinya untuk sekedar membaca buku tentang hal mistis tentunya. Cocok sekali
denganku yang sedang mengalami hal-hal mistis itu.

Kring… kring... Bel berbunyi, tanda pembelajaran telah berakhir.

Aku membereskan buku dan alat tulisku dengan tergesa, karna aku tak ingin kehilangan Vindha. Aku ingin membicarakan hal ini kepadanya, aku sudah tak tahan lagi dengan kejadian yang menimpaku ini.

“Vindha!” yang merasa terpanggil pun membalikkan badannya ke arah ku.

“Ada apa? Tumben kamu manggil aku?” tanyanya.

‘Sebegitu jarangkah aku memanggil namanya? Ah sudahlah… lagipula bukan itu yang aku butuhkan sekarang.’ Aku menghampirinya dengan sedikit berlari.

“Emm…. Sebenarnya aku ingin bercerita sekaligus nanya sesuatu sama kamu? Bolehkan?” tanyaku kepadanya dengan nada canggung.

“Boleh aja. Memangnya apa yang pengen kamu ceritain dan tanyain, itu?” tanyanya ramah.

“Hmm… Gimana kalau kita kekantin dulu, ini udah jam makan siang kan?”

“Boleh… Kebetulan aku memang udah lapar hehe dan juga kayaknya kamu pengen ngomong serius.”

Aku hanya membalasnya dengan senyuman.

Sesampainya dikantin aku dan Vindha memesan makanan. Sambil menunggu pesanan datang aku melanjutkan tujuanku yang akan bercerita dan bertanya kepadanya.

“Emm Vindha?” aku memanggilnya ragu-ragu, takut mengganggu dirinya yang sepertinya sedang fokus dengan buku mistis nya itu.

“Ya apa?”

“Aku pengen ngelanjutin obrolan kita tadi.”

“Oh ya silahkan. Jadi apa yang pengen kamu ceritain itu? Jangan-jangan berkaitan dengan hal yang mistis ?”

“Ya, menurutku ini berkaitan dengan hal itu. Sebenernya akhir-akhir ini aku tuh terlalu sering ngerasain kejanggalan tiap aku tidur, seperti selalu terbangun tengah malam sekitar pukul 12.00 sampai pukul 02.00. Aku merasa ada yang membangunkanku tapi aku sadar, hanya ada diriku seorang didalam kamar kosan yang aku sewa. Aku jadi gelisah.” Ceritaku dengan wajah yang mungkin terlihat konyol.

“Memang apa yang kau rasakan hingga kau terbangun seperti itu?”

“Aku tak yakin, tapi aku rasa ada yang menindih badanku. Aku tak bisa melihat apa yang menindih badanku.” Jawabku dengan nada ketakutan.

“Ohhh itu.. Itu emmm apa ya namanya?” dia terlihat sedang berpikir “Banyak orang yang bilang itu namanya erep-erep.” Jawabnya santai sambil mencari-cari tulisan dibuku kecilnya.

“Jadi sebenernya itu apa? Terus kenapa aku ngalamin yang gituan akhir-akhir ini?” tanyaku takut-takut.

“Aku ga tau sih sebabnya apa… Tapi dari informasi yang aku punya, katanya ada jin atau setan atau apalah gitu yang lagi tertarik sama kamu.” Jelasnya sambil membaca di salah satu halaman buku kecilnya itu.

Seketika aku merinding mendengar penuturan yang dijelaskan oleh Vindha. ‘Kenapa pula jin dan setan itu tertarik sama aku? Emang aku punya apa? Orang aku aja takut sama mereka.’ batinku dengan hati yang bisa dibilang lagi ‘dugeun-dugeun’ atau deg-degan ga jelas.

“Terus aku harus gimana Vin? Aku takut, masalahnya hampir tiap hari aku kaya gitu.” Tanyaku yang mulai cemas.

Dia terlihat berpikir lalu “Ah gimana kalo hari ini aku nginep di kosan kamu? Sebenernya aku juga ga begitu tau tentang hal ini, jadi kita cari tau sama-sama gimana?”

“Boleh aja sih. Tapi emangnya apa yang bakal kamu lakuin di kosan aku nanti? Bukan ritual atau sejenisnya kan?” tanyaku takut-takut.

“Ya nggalah. Aku emang suka sama hal yang berbau mistis tapi aku ga percaya sama sesajen atau yang lainnya. Aku cuma penasaran aja sama yang namanya setan atau jin gitu... Jadi? Boleh?” jelasnya.

“Ya udah deh, itung-itung ada yang nemenin aku nantinya pas tidur.” Aku menunjukan cengiranku.

“Oke, berarti nanti kita pulang bareng ya?”

“Iya oke”

**

Sore hari setelah selesai kuliah aku pun pulang tak lupa menunggu Vindha dulu, yang katanya mau membantu memecahkan hal ‘mistis’ ini. Selagi aku menunggu, teman ku Cassy dan beberapa teman lainnya tiba-tiba menghampiriku.

“Arin!” panggilnya.

“Apaan?” jawabku sekenanya.

“Kamu lagi ngapain disini? Oh iya, tadi aku liat kamu bareng Vindha terus dari mulai jam istirahat sampai jam mata kuliah terakhir. Kamu lagi marah sama kita? Atau sama aku?” Tanya Cassy dan yang lain hanya mengangguk setuju.

“Engga ko. Aku ga marah sama kalian. Emang aku keliatan lagi marah ya? Soal sama Vindha, sebenernya aku ada masalah pribadi, dan kayanya Vindha bisa bantu aku buat nyari solusi. Gitu aja sih.” Jelasku dengan santai.

Cassy dan yang lain hanya ber-oh ria menanggapi penjelasanku.

“Emangnya ada masalah apaan? Ko bisa si Vindha yang kamu minta bantuan?” kali ini Rayhan yang bertanya.

“Emm… Gimana ya jelasinnya? Soalnya aku yakin kalian bakalan ketawa denger cerita aku.” Ucapku sambil mempoutkan bibirku.

“Aissshhhh… kamu ini bikin gemes aja, emang ada masalah apa sih sampe sebegitunya? Cerita aja sama aa” kata Lio sembari mencubit pipiku dan menunjukan muka sok gantengnya.

‘sebenernya si lio ini bikin aku jijik, karna tingkat kepedean dan menyebalkan-nya yang sangat tinggi’

“Hei Karina!” seorang remaja wanita kini menghampiriku. Siapa lagi yang aku tunggu dari tadi, Vindha.

“Hei! Emm kayaknya aku harus pulang sekarang deh, aku duluan ya… Besok-besok aku ceritain deh” ucapku sambil melambaikan tangan kepada tiga temanku dan berlari kecil kearah Vindha.

“Isshhh anak itu kebiasaan” ucap Rayhan dan langsung merangkul Cassy dan Lio untuk pulang.

**

Sesampainya di kosanku, kumasukan kunci lalu kuputar guna membuka pintu kamar tersebut kubuka pintu kamar dan aku pun langsung mempersilahkan Vindha untuk masuk kedalam kamar. Hening, kami masih kalut kedalam pikiran masing-masing. Kulihat jam dinding menunjukan pukul 17.00, ‘aku ingat, aku belum shalat’ tapi memang sifat pemalasku yang besar aku sengaja melupakannya.
Aku lihat Vindha masih sibuk dengan buku ditangannya dan sesekali memperhatikan kamarku, seperti ada sesuatu yang ia temukan.

“Vin, kamu laper ga?” tanyaku mencoba memecah keheningan ini.

“Emm… Sedikit sih” jawabnya dengan dua jari yang ia angkat membentuk ‘V’ sign.

“Kita cari makan dulu yuk… Aku juga laper nih” ucapku sambil mengelus-elus perutku yang sedari tadi meronta untuk diisi makanan.

“Ayo… ngomong-ngomong kamu dikamar ini sendirian? Ga ada roommatenya gitu?”

“Ngga, emangnya kenapa?” tanyaku heran.

“Ohh pantesan aja…”

Lagi-lagi dia membuatku ketakutan “Pantesan? Pantesan kenapa? Aku ga ngerti”

“Pantes aja kamu ngerasain kejadian kayak gitu, soalnya ya kalo sendirian itu lebih rentan kena begituan menurut aku”

“Ah udah ah. Dari tadi kamu cuma bikin aku takut. Cepet kita beli makan takut keburu malem”

“Iya iya…”

**

Setelah membeli makanan, kami pun kembali ke kamar kosan.

“Ahh.. Cape rasanya” Vindha membaringkan badannya di kasurku, yang memang hanya ada satu Kasur sih.

“Iya cape… Tapi jalan-jalan malem seru juga ya. Hahah”

“Iya sering-sering ya kaya gini. Hehe”

“Kamu sih enak dibayarin aku. Lha aku?” ucapku sambil menunjukan ekspresi datar pada mukaku.
Dia hanya tertawa melihat ekspresi wajahku.

Kurasa kami semakin dekat, dia memang tidak dingin dan aneh menurutku. Malah dia sangat bersahabat dan menyenangkan diajak bercengkrama.

“Vin kamu ga mandi dulu? Bau gitu juga.. Uhhh” ucapku dengan nada meledek.

“Iya ini mau ko. Kamu juga bukannya mandi, malah ngeledek aku.”

Aku hanya menunjukan cengiran (tanpa dosa) ku.

Lalu Vindha pun masuk kedalam kamar mandi. Sembari menunggu aku memainkan game di handphone ku. Lalu tiba-tiba aku mendengar suara-suara aneh yang terdengar dari… kamar mandi(?). Aku pun langsung bertanya,

“Vindha? Ada apa?”

Tapi setelah beberapa detik Vindha tak kunjung menjawab. Aku jadi khawatir, lalu aku memberanikan diri mendekati pintu kamar mandi. Ku ketuk pintu sembari memanggil namanya beberapa kali. Akhirnya pintu kamar mandi pun terbuka dan sontak aku langsung membelalakan mataku.

“AAAAAAAAAAAAA…..”

Betapa terkejutnya aku melihat sesosok penampakan wanita berambut panjang yang sedang berkaca dikaca kamar mandi dan aneh mengapa aku tak melihat sosok Vindha didalam sana. Aku masih berdiri membeku ditempatku, aku tak kuasa hanya untuk melangkah kan kakiku apalagi berlari menjauhinya.

‘Ya Allah apalagi ini? Apa yang aku lihat? Hantukah? Aiishhhh kenapa dia menatapku sekarang? Sungguh aku ingin pingsan saja rasanya.’ Kataku dalam hati.

Sosok penampakan itupun semakin lama semakin tajam menatap bola mata ku dan mulai mendekat ke arah ku. Rasanya kakiku sudah tak kuat lagi untuk sekedar menopang berat badanku. Tak lama akupun ambruk ke lantai.

Keesokannya…

Matahari mulai menunjukan sinarnya dan masuk tanpa izin kedalam celah jendela sebuah kamar kosan sederhana ini sedikit mengusik tidur seorang mahasiswi didalamnya. Aku membuka mataku perlahan mengerjapkannya guna mnyesuaikan mataku dengan teriknya sinar mentari. Seketika aku sadar dengan kejadian semalam tapi sepertinya… ada yang janggal. Ku edarkan pandanganku sesaat melihat seisi ruangan ini. ‘Tak ada yang aneh’ pikirku. Tapi aku ingat betul semalam aku pingsan didepan kamar mandi dan kenapa sekarang aku berada diatas ranjangku sendiri.
Ku beranikan diri untuk sekedar turun dari ranjangku untuk mencoba melihat kedalam kamar mandi dan ‘a-apa ini?’ kurasa ada sebuah benda dingin menahan kakiku untuk berjalan. Kuberanikan diri melirik kebawah dan kutemukan tangan dan sesosok wanita kemarin.

“AAAAAAAAAA...... Tolong !!!!” teriakku sekuat tenaga.

Aku mencoba berontak namun hasilnya nihil, ku hentakan kakiku guna melepas tangan ini yang sedari tadi memegangiku dengan kuat. Keringatku mengucur dengan derasnya dari dahi hingga menetes melewati dagu. Ku coba raih benda apapun yang ada didekat ku untuk sekedar melonggarkan pegangannya.

‘Mama Ayah aku harus bagaimana?’ batinku.

Aku langsung ingat perkataan ayah bahwa dimanapun dan kapanpun aku harus membaca do’a guna menjauhkan hal-hal yang tidak diinginkan. Akhirnya aku langsung merapal do’a dalam hatiku semampu dan sebisaku. Sesaat setelah aku merapal do’a pegangannya mengendur, ada rasa lega menghampiri diriku. Ku beranikan diri lagi untuk melirik kebawah ‘Ah dia hilang’ . Dengan tergesa-gesa aku berlari sekencang-kencangnya menjauhi kamar kosan angker itu.

Bruk… Aku menabrak seseorang, ku tengadahkan kepala guna melihat wajah orang yang ku tabrak, ternyata Rayhan. ‘Lho? Kok ada Rayhan disini?’ pikirku. Ku langkahkan kaki kebelakang untuk sedikit memberi jarak dengan Rayhan dan ternyata bukan hanya Rayhan disini ada dua sahabatku yang berdiri dibelakangnya, siapa lagi kalo bukan Cassy dan Lio.

“Kamu kenapa rin? Pake acara lari-larian segala? Kamu dikejar hantu?” tanya Lio.

“Iya nyampe ngga liat ada kita. Tepatnya kamu ngga liat aku sih.” Lanjut Rayhan.

“Eng-ngga apa-apa ko. Hehe aku Cuma lagi buru-buru aja. Ka- ” ucapanku dipotong.

“Ngga apa-apa gimana? Orang muka kamu pucet pasi gitu? Mimpi buruk lagi? Bukannya semalam kamu ditemenin si Vindha?” giliran Cassy yang bertanya.

“A-aku… Ah aku bisa gila.” Aku mengacak rambutku frustasi, aku terlalu takut untuk mengingat kejadian tadi dan semalam.

“Kamu kenapa si say?” ucap Lio menggoda.

“Mendingan kita ke kamar kamu deh, kita omongin disana aja, ngga enak kan kalo ketauan orang” ucap Rayhan, sebenarnya dia yang paling bisa berpikiran jernih dan tenang disini.

“Ngga! Jangan! Kumohon…” Aku mulai meneteskan air bening yang sudah berkumpul dipelupuk mataku.

“Emangnya kenapa Rin? Nyampe kaya ketakutan gitu?” tanya Cassy.

“Tolong bawa aku kemana aja asal jangan balik kekamar kosan. Please… “ ucapku memelas.

“Yaudah ayo kita ke café sebrang jalan raya sana.” Ajak Rayhan.

Aku pun hanya mengangguk lemah, sudah tak ada tenaga lagi rasanya walau hanya untuk sekedar berjalan saja.

Sesampainya di café Cassy memesan beberapa makanan dan minuman, dia khawatir aku akan pingsan karna wajahku yang sudah seperti mayat hidup. Aku langsung menidurkan kepala ku dimeja café. Rayhan yang duduk disamping ku ikut menidurkan kepalanya dan menghadap ke arah ku. Canggung sebenarnya dengan posisi seperti ini. Dia pun bertanya dengan nada yang lembut guna membuatku nyaman.

“Sebenernya kamu kenapa Rin? Cerita deh sama kita, seengganya kamu bakalan ngerasa tenang. Ngomong-ngomong sebenernya kita udah ada firasat ngga enak Rin sama kamu sama Vindha juga. Ya soalnya kamu ngga biasanya bareng sama dia, kamu tau sendiri dia itu sedikit aneh atau mungkin banyak anehnya.” Jelasnya.

“A-aku takut Han… Aku ngga tau harus cerita darimana, aku sendiri bingung kenapa bisa gini” ucapku lirih.

“Bisa gini gimana? Ga ngerti aku.” Tanya Cassy yang datang dengan satu buah nampan cukup besar berisi makanan dan minuman.

Aku pun menceritakan kejadian semalam dan tadi pagi dengan sesekali terisak karna aku menangis
saking takutnya.

“Udah-udah ngga usah nangis lagi. Ya udah nanti kamu nginep dirumah aku aja ya.” Ucap Cassy menenangkan.

“Iya, bener kata Cassy kamu nginep aja dulu dirumahnya nanti kita juga ikut ya Han. Hehehe” ucap Lio sembari cengengesan.

Rayhan hanya menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya yang satu ini.

“Mungkin sebenernya kamar kosan kamu itu emang angker dan Vindha… Aku masih bingung kok bisa dia ngilang kaya gitu? Terus kamunya juga, kamu harus jujur sama diri kamu sendiri Rin.” Jelas Rayhan.

“Maksudnya? Aku ngga paham” ucapku tak paham dengan jalan pembicaraan Rayhan.

“Maksud aku kamu harus jujur sama diri kamu kalau kamu itu butuh sama yang namanya ibadah. Aku tau kamu cape atau mungkin males, tapi kamu harus bisa melawan rasa itu Rin. Kamu harus sempetin waktu buat ibadah. Ya kamu ngerasain sendiri kan pas kamu baca do’a dia langsung ngilang.” Jelas Rayhan panjang lebar.

Aku terisak lagi mendegar penjelasan dari Rayhan aku mengerti sebenarnya apa yang terjadi padaku akhir-akhir ini. Aku sudah hampir tak peduli atau mungkin memang tak peduli lagi dengan ibadah yang memang seharusnya aku lakukan. Mungkin yang dikatakan Vindha ada benarnya bahwa dia menyukaiku, karna tak ada perlindungan apapun yang melekat pada jiwa dan ragaku.

“Udah-udah ngga ada gunanya kamu nangis. Cuma buang-buang energi aja,” Ucap Rayhan menengkan “mendingan kamu makan ini roti, biar kamu ngga lemes.”

“Iya bener kata Rayhan. Berarti hikmah dari kejadian ini, kamu harus rajin ibadah dan berdo’a dimanapun kapanpun mau kamu lagi sibuk atau apapun itu. Oke?” tutur Lio.

“Tumben kamu bijak Lio. Dududu mamanya Lio pasti sujud syukur liat kamu kaya begini. Hahaha” ledek Cassy sambil tertawa terbaha-bahak.

Akupun ikut tertawa, pasalnya Cassy akan memperlihatkan ekspresi seperti mama Lio dan Lio akan memeperlihatkan ekspresi bibir maju lima centi.

“Nah gitu dong. Kan enak diliatnya, jangan nangis terus” ucap Rayhan.

“Iya iya. Oke sekarang aku bakalan ubah hidup aku secara keseluruhan. Bukan karna hantu itu sih, aku sadar emang makin kesini aku suka bohongin diri aku sendiri alias ngga jujur. Hahhh… Lega rasanya punya sahabat kaya kalian, kalian selalu ada buat aku walaupun aku kaya gini. Hehe” ucapku sembari menggaruk tengkukku yang tidak gatal sama sekali.

“Alahhh… Ngga usah sebegitunya juga kali Rin kita kan emang sahabat, jadi udah pasti kita bakalan ada buat kamu bantu kamu lagi susah ataupun senang.” Jelas Cassy.

“Emang apanya yang mau dibantu kalau lagi seneng?” tanya Lio polos.

“Ya bantu seneng-seneng juga lah…” tutur Rayhan tenang.

“Hehe iya iya. Aku sayang kalian.” Ucapku lebay seraya menunjukan ekspresi sok imutku.

“Dihhh lebay alay. Ieewwhhh” ucap Cassy sambil menunjukan ekspresi ingin muntah.

 ***

[22 Desember 2011]

Dua bulan berlalu, sekarang aku sudah tak menetap dikosan angker itu lagi. Sejak kejadian yang menimpaku itu dan hilangnya Vindha secara tiba-tiba membuatku memutuskan untuk pulang ke kampung halamanku di Bogor dan mengambil cuti kuliah sampai setidaknya misteri itu dipecahkan. Aku sudah tak pernah mengalami hal-hal aneh lagi sekarang, aku hidup tenang dan damai bersama kedua orang tuaku. Terkadang aku rindu dengan sahabat-sahabtku di Bandung, sesekali akupun melakukan video call hanya untuk mencurahkan sedikit atau mungkin banyak rasa rindu yang kami rasakan, artinya bukan hanya aku saja yang merasakan kerinduan.

Siang tadi aku melakukan video call bersama sahabat-sahabatku itu dan mereka bertiga bercerita tentang misteri menghilangnya Vindha. Ternyata Vindha selama sekitar tiga bulan kemarin berada diluar negeri tepatnya di Venesia. Vindha sendiri bingung mengapa ia yang baru datang dari luar negeri bukannya disambut hangat oleh teman-temannya, tetapi malah ditanyai tentang hal yang ia tidak ketahui sama sekali. Semua orang dibuat bingung, ‘Lalu yang kemarin-kemarin dikelas siapa? Dan yang menemani ku makan siang, pulang ke kosan, jalan-jalan malam, dan lain sebagainya itu siapa?’ pikirku yang sekarang tengah bingung setengah mati.

‘Ah mungkin ini memang peringatan untuk ku agar aku harus rajin beribadah dan berdo’a’ kataku mantap dalam hati.
~Tamat~
Salah Siapa

Salah Siapa

Salah Siapa

Oleh: Muhammad Rifki Alian

Disuatu pagi saat memasuki hari pertama ujian akhir semester, ada seorang mahasiswa bernama Rifki yang masih tertidur lelap dikamar. Saat itu kamarnya masih berantakan sekali seperti, bantal, selimut, guling, itu berserakan di mana-mana, bahkan laptop pun masih menyala dengan membuka software Ms. Word, yang di dalamnya terdapat tugas kuliahnya.

salah siapa

Seketika itu Rifki berbalik posisi tidur, mengusap wajahnya dengan tangan, posisi badannya terbaring lemas, dan kaki terbuka. Rifki pun bangun dari tidurnya dengan raut wajah yang masih mengantuk. Perlahan-lahan Rifki membuka matanya dan tak sengaja Dia melihat ke pintu lemarinya bertempelkan kertas dengan tulisan “Hari pertama UJIAN AKHIR SEMESTER!!! Cinema History jam 8 pagi!!! Tidak boleh telat!”, Dia membacanya dengan mata melotot dan langsung mengalihkan penglihatannya ke jam dinding, jam itu menunjukan pukul 07.45 pagi.

“Aaaaaaaaaaaaaaa!!” Dia berteriak seakan-akan kaget melihat waktu yang menunjukan bahwa 15 menit lagi ujian akhir akan dimulai. Rifki langsung bergegas dengan cepat meninggalkan tempat tidurnya, Dia langsung berlali menuju kamar mandi dengan membuka pintu secara keras. Dia membuka keran air dan menjulurkan kedua jari tangannya untuk bercuci muka, tapi hanya bagian mata saja yang Dia cuci, lalu Dia pun menggosok giginya tanpa alat penggosok gigi dan tanpa pasta gigi melainkan Dia hanya menggunakan kedua jarinya yaitu jari telunjuk dan jari tengah untuk melakukannya. “Haahh” Dia menghembuskan nafasnya ke telapak tangan kanan dan Dia pun merasa bau dengan mulutnya itu.

Rifki membuka pintu lemari untuk mengambil pakaian kuliahnya, Dia terburu-buru tanpa memilih-milih. Dia memakai baju kaos berwarna hitam dan jaket berwarna merah, memakai kaos kaki hitam dengan sepatu kets berwarna coklat. Tanpa sarapan Dia pun langsung bergegas mengambil tasnya dan berlari menuju pintu keluar.

Tapi tiba-tiba Dia merasakan sesuatu yang aneh, Dia pun melihat ke bawah, ternyata Dia belum menggunakan celana, Dia hanya menggunakan celana box pendek. Rifki menepuk jidat menggunakan tangannya lalu Dia langsung kembali ke rumahnya untuk memakai celana. Dia berlari menuju tempat kuliahnya dengan ekspresi wajah yang sangat yakin bahwa Dia bisa sampai di kampusnya tepat waktu.

Diselah perjalanan Rifki, ada seorang anak kecil menggunakan baju berwarna kuning, berwajah cina sedang memakan pisang dengan lahap. Saat Rifki sedang berlari anak kecil itu kaget dan langsung melemparkan cangkang pisang ke belakangnya. Anak kecil itu jongkok dan Rifki terus berlari dengan merasa yakin bahwa Dia bisa melompati anak kecil itu. Ketika Ia berhasil melompati anak itu, tak sengaja kaki kanannya menginjak cangkang pisang yang tadi dilemparkan oleh anak kecil berwajah cina itu.

“Aaaaaaaaaa, aw” Rifki terjatuh. Seketika Rifki bangun dari jatuhnya dan Dia pun mengusap wajahnya menggunakkan kedua tangannya, lalu si anak kecil tadi langsung kabur meninggalkan tempat itu.

Dia terus berlari menuju kampusnya dengan bercucuran keringat yang sangat banyak.

Sesampainya di kampus, ada seorang wanita berambut panjang hitam, berkulit putih, menggunakan baju berwarna biru, menjinjing tas coklat dan membawa buku kuliahnya. Rifki dengan keadaan masih berlari itu tak sengaja menoleh ke wanita cantik itu dan terus melihatnya, Rifki tersenyum dan si wanita cantik itu menjawab senyumannya. Tapi tiba-tiba Rifki menabrak tiang gedung dan si wanita itu pun menertawakannya.

Rifki berlari menuju lift, akan tetapi lift tersebut penuh dan Dia langsung mencari jalan lain supaya bisa sampai ke ruang ujiannya yaitu dengan menaiki tangga darurat. Dia menaiki tangga dengan cara berlari, ketika Dia sampai di lantai ke empat, Dia merasa kelelahan dengan raut wajah yang kusam, tapi Dia tidak menyerah, Dia tetap melanjutkan perjalanannya untuk menuju ruang ujiannya itu.

Sesampainya di lantai 6, Dia masih berlari di kodidor menuju ruang ujian, saat itu Dia mengeluarkan sebuah kartu dari saku kanannya dan Dia langsung menambah kecepatan larinya hingga sampai di pintu ruang kelas dengan menjulurkan kartu yang dipegangnya itu. Tapi ketika Dia sampai di sana yang terjadi adalah Dia telat masuk ruang ujian, Dia sampai di sana pukul 08.01. Dia duduk di depan ruang ujianya dengan merasa lelah dan sekaligus kecewa. “Tidaaaaaaaaaak!!” dia berteriak karena terlambat masuk.

Disebuah taman depan gedung kampusnya, Dia duduk dan menghembuskan nafas kencang menandakan Dia merasa kesal dan menyesal pada hari itu.

Dari belakangnya datang seorang laki-laki berpakaian hitam putih dan berkata, “Kenapa?” Rifki pun menoleh sambil menjawab, “Telat ikut ujian” laki-laki itu menanyakan kembali, “Kok bisa?” Rifki mengalihkan pandanganya kedepan sambil berkata “Huhh, itu gara-gara tadi!” “Gara-gara apa?”, tanya laki- laki itu. “Gara-gara tadi tuh pisang, itu cewek sama tadi tuh liftnya”

Tak lama kemudian laki-laki itu pun langsung mendekatinya sambil berkata, “Yakin? Bukan karena apa yang kamu lakukan semalem?”. Rifki pun menunduk sambil memikirkan apa yang Dia lakukan waktu malam, “Semalem sih gue..... BBM an, maen sosmed, terus maen game, dan browsing. Nah trus gue juga ngerjain tugas tuh sampe jadi”, “Hhh.. tapi sampe jam berapa?” kata si laki-laki tak dikenal itu. Rifki menjawab sambil memikirkanya, “Sampai......... subuh sih” Rifki langsung melihat ke bawah.

Laki-laki itu membuat Rifki sadar akan kesalahannya. Rifki berkata sambil menoleh ke tempat laki-laki tadi diam, “Iya juga ya, harusnya gue....” tapi tiba-tiba si laki-laki itu hilang meninggalkan Rifki.

Akhirnya Rifki sadar akan kesalahannya, Dia tahu bahwa apa yang Dia lakukan semalam itu salah, dan Dia juga tahu harusnya kejadian sekarang itu bukan disesali tapi dijadikan pelajaran untuk besok. “Semoga besok lebih baik dari pada hari ini”, kata Rifki sambil bergegas pulang.

Rifki pulang ke rumahnya, lalu membuka pintu rumah dengan perlahan dan meletakan tasnya digantungan dekat pintu. Dan Dia melakukan aktivitasnya seperti biasa.

Dia menuliskan kata-kata disebuah kertas hvs berwarna putih dengan tulisan, “Sesuatu kesalahan jangan dijadikan penyesalan, tapi dijadikan pelajaran buat besok.”

Keesokan harinya Dia masuk kuliah tepat waktu dan melaksanakan ujian akhir semesternya dengan lancar.
Smart Solution

Smart Solution

Smart Solution
Oleh: Muhammad Nur Rachman

Aku Terpilih Sebagai Ketua Dalam Project Smart Solution dalam pelajaran IT , yang di ajarkan oleh Bu Rahma. Dan seperti biasanya , para Ketua (leader) di setiap kelompok mengingikan anggota yang terbaik agar ide-ide & kreatifitasnya sejalan. Namun berbeda dengan anggotaku yang mayoritasnya para pemalas dan di sekolahpun mereka tukang tidur dan juga ada dia jagoan di kelas ini. Awalnya Aku merasa kecewa dengan anggota kelompok yang diberikan bu.guru ini , karna Aku harus satu kelompok dengan mereka selama 3 bulan ini , ditambah ada Dia yang kurang Aku sukai. Aku Aden , Aku Adalah Orang yang cukup pendiam dan tidak banyak tingkah di sekolah , Aku berpakaian rapih namun memiliki masalah di rambut , Aku kurang menyukai rambut yang pendek. Teman yang Aku tidak suka itu bernama adul , Dia jagoan dikelas , tukang buly , namun Dia memiliki nilai yang sangat bagus dalam pelajaran apapun , tetapi Dia pemalas dan satu lagi anggotaku adalah Dono, Dia orangnya tidak suka bergaul / menutup diri .

cerpen tema smart solution




Aku selalu berusah menyatukan anggota kelompok yang isinya para pemalas ini dengan susah payah , karna mereka selalu ada alasan untuk tidak berkumpul , Cuma satu dari mereka yang selalu bias hadir , yaitu adul yang aku kurang sukai itu yang selalu hadir , dia menghargaiku sebagai ketua . hanya dia yang mau mendengarkan & bisa memahami apa yang sedang aku bicarakan. Namun di hari ini aku meminta adul untuk membantu menyatukan anggota kelompok setelah selesai bel sekolah dibunyikan , karna aku yakin semuanya pasti patuh pada perintah Adul ini. Dan benar saja dugaan ku semua hadir karna undangan dari Adul .

Dan ketika saat semua anggotaku berkumpul , Aku langsung memulai pembicaraan.

“Makasih udah nyempetin waktu “

“Ya emngnya harus kaya gini den , kan kita lagi kerja kelompok. ” Ujar Dono

“Yaudah Kalo Gitu , langsung saja kita harus membuat konsep dasarnya dulu baru melanjutkan kedalaman penulisan sytaxnya” ujar adul dengan wajah mulai memalas.

“Yasudah ini ada salinan & referensi waktu itu yang di ajarakan Bu.Rahma “ Balas aden sambil memberikan Flashdisk kepada dono. “cepat Copy don , Gua pengen pulang” balas adul .

“Oke selesaikan” lanjut adul , “Oke Bagus , sekarang tinggal pulang “ Balas Dono . “Ingat Besok Kumpul lagi , Jangan lupa deadlinenya tanggal 21 Agustus ! ” Balasku sambil menegaskan.

Seperti kelompok lain , kami sering mencari referensi & ide-ide baru untuk project ini agar cepat selesai ,Namun sering kali kami saling beradu pendapat yang membuat , ketika kami berkumpul jadi hanya buang-buang waktu untuk saling beradu pendapat yang kurang penting ini.Namun begitulah kami seperti ini,setelah kurang lebih saling mengetahui keahlian masing –masing barulah Aku membagi mereka kedalam tugas yang harus diselesaikan. “Dul , Ngerjain bagian design ya ? “

“Oke Kapten “Balas Adul dengan wajah yang bersemangat , “Sisanya tinggal Aku & Dono cari materi untuk isi web & system web nanti “.

“Yasudah deh “ Balas Dono dengan malas , Kami sering bertemu di hari sabtu untuk melihat perkembangan Bagaimana web dan system yang kita kerjakan , dan menurut aku project ini sangat cepat berkembang karna dalam waktu 2 bulan sudah mencapai 50%.Kami merasa sudah cukup baik dalam pengerjaan tugas ini , jadi kami pikir dalam waktu kurang dari 3 bulan project ini akan selesai.

“Don , Project ini simpan di laptop mu ya ? “ kata adul , “Malas ah “ balas dono , “Ayolah tinggal 1 bulan doang simpan di lu ajah don ?”.

“Yasudah deh , sini copy kesini , setelah selesai di copy aku mau pulang udah sore nih” balas dono , “Oke dul ” balas aku.

Project kami tinggal hanya kurang dalam bentuk materi isinya saja , sisanya kira-kira sudah cukup bagus , tapi ketika hari senin pagi adul Datang dengan wajah panik , Dia bercerita kalo laptopnya dimaling semalam , seketika aku & adul terdiam karna memikirkan semua project selama ini ada dilaptopnya. “Kok Bisa Don ? ” kata adul dengan wajah emosi , “Namanya juga musibah dul “ balas dono . “Yasudah berarti kita mesti buat dari awal , kita udah tau konsepnya tinggal membuat seperti yang pertama itu . ” balas aku agar mereka tidak terbawa emosi , “Bikin ajah sendiri , cape gua ! ” dengan nada tinggi Adul membalas , lalu Adul pergi meninggalkan Dono. “Sudah Don , biarkan dulu si Adul ntr kalo udh aga tenang baru kita ajah bicara lagi “ . “Oke Den , Maaf ya “ . Balas Adul.

“Iyah , gpp namanya juga musibah dul “ . Setelah seminggu berlalu kita tidak berbicara soal project ini , Aku sebagai ketua harus berusaha menyatukan Adul & Dono karna mereka sebagai anggota kelompok aku. Aku mencoba menghampiri si adul “Dul ?”.

“Apa Den ? ”.

“Ayo kita terusakan project ini ? ”.

“Gak bisa , merasa putus asa gua den . ”

“Ayolah Tenang pasti bisa ko , kita udah pernah melakukannyakan ? Project itukan udah 50% ayo sedikit lagi”

“Oke baiklah , Kita bergerak cepat ya ? ”

“Siap Bos , tolong maafkan si Dono , itukan musibah ”

“Sebenarnya sudah aku maafkan , hanya aku tidak terima hasil usaha yang aku buat hilang begitu saja ”

“Aku mengerti ko dul “

“Baiklah sabtu sekarang kita berkumpul untuk membuat project yang baru , waktu tinggal 1 bulan lagi , pasti selesai !”

“Oke kapten”

Ketika hari sabtu , kami langsung bergegas mengerjakan & mengcoding program untuk project ini , karna awalnya kami pernah membuatnya jadi untuk membuat seperti yang sama lagi terasa begitu mudah dan tidak terasa , meskipun kami mengerjakannya sambil bermalas – malasan. Tapi ini pasti selesai sebelum tanggal 21 Agustus. Kali ini sangat mudah karna semua ide-ide kami sudah bersatu , dan sudah mempunyai konsep yang sama , yang membuat kami tidak perlu lagi untuk mempermasalahkan soal ide – ide atau konsep project ini , setiap sabut dan pulang sekolah kami sempatkan untuk berkumpul untuk meneruskan project ini.

“Semangat kawan , 1 minggu lagi deadline !” Ujar Aku memberikan semangat kepada mereka ,

“Aku berpikir tugas ini tidak akan mudah diselesaikan karna waktu itu ada musibah yang menimpa Dono , tapi mungkin ini berkat usaha dan kerja keras anggota ini dan mungkin tugas ini akan segera selesai karna project ini tinggal penyelesaian dalam hal konten atau isinya saja , semoga saja hasilnya tidak mengecewakan Adul dan Dono “ berbicara di dalam hatinya .

Tanpa terasa tinggal mengitung hari saja tugas ini akan dikumpulkan kepada Bu rahma . Kami sungguh tak percaya bisa mengerjakan project secepat ini.

Tibalah tanggal 21 untuk mengumpulakan tugas ini , aku merasakan perasaan yang bagus tentang project ini ,

“Semoga hasilya tidak mengecewakan “ aku berbicara di dalam hati.

Kami sudah berusaha semaksimal mungkin , semoga hasilnya bagus, kami yakin telah melakukan usaha yang terbaik , jadi kami percaya diri atas apa yang kami kerjakan.

Ketika pulang sekolah kami berkumpul di ruangan MTK.

“Selesai Sudah Tugasku sebagai ketua kalian ” Aku memulai pembicaran.

“Makasih atas kerjasamanya kawan ” lanjutku lagi ,

“Tenang ajah kapten” balas Dono & Adul.

“Yakin hasilnya pasti bagus” lanjut Adul.

“Aminnn Dul” balasku.

Setelah perbincangan sesaat itu kami langsung pulang kerumah masing-masing. Kami bangga atas apa yang telah kami kerjakan , tinggal Allah yang menentukan hasilnya.
Manis Selalu Bersama Madu

Manis Selalu Bersama Madu

Manis Selalu Bersama Madu
oleh Yulian Rizki Nugraha

Di suatu kota ada seorang pria, bernama Priyo. Dia bersekolah di suatu SMA di kota tersebut dan duduk di kelas dua. Orangnya biasa- biasa saja, pendiam dan sedikit pemalu. Dia biasa berkumpul dengan keempat temanya ketika ada waktu luang di sekolahnya dan mereka saling berbagi cerita. Suatu hari ketika sedang ada kegiatan di lapangan sekolahnya, Priyo melihat sebuah gadis dari atas yang membuat hatinya berbunga-bunga. Lalu ketika dia berkumpul dengan kelima temannya, ia menceritakan hal itu ketemannya ke pada teman-temannya.

“Bro, dia cantik ya?” dengan malu dan pelan.

“Yang mana?” jawab Andi.

“Yang itu tuh,” sambil menunjuk.

“Masa sih cantik?” tanya Budi.

“Iya dia mirip perempuan yang aku sukain waktu SMP,” jawabku.

“Ketemu dimana tuh?” Tanya Rai.

“Barusan ngeliat dari atas,” jawabku.


Manisnya madu

Setelah dia bercerita, dia berusaha mencari cari nama wanita yang disukainya. Dia sering melihat perempuan itu, namun dia belum juga mengetahui namanya. Lalu dia memikirkan bagaimana caranya agar mendapatkan namanya. Lalu dia menemukan sebuah cara untuk mengatahui namanya. Ketika dia berjalan di lantai satu , dia melihat perempuan itu dan melakukan cara yang telah dia rencanakan. Lalu dia melihat namanya yang terdapat di kartu identitasnya. Dia sempat lupa karna hanya melihat nama itu dengan sekilas. Namun, ketika ada sebuah jadwal kegiatan rutin yang dikerjakan di sekolahnya, dia melihat jadwal tersebut dan mengetahui bahwa dia satu kelompok dengan perempuan tersebut.

Ketika sudah hari H dia lupa bahwa dia satu kelompok dengannya.

“Oh iya, dia kan satu kelompok dengan aku,” gumamnya.

Dia langsung mengisi daftar hadir, lalu melihat nama perempuan tersebut, lalu menghapalkan nama perempuan tersebut. Dia bersikap seperti biasa, namun dia berusaha menjaga agar tidak kelihatan bahwa dia memendam rasa pada wanita itu.

Hari pertama Priyo sangat dingin. Priyo sempat bertemu dengan salah satu temannya, lalu dia bercerita dengan temannya bahwa wanita itu satu kelompok dengannya.

“Bro liat tuh perempuan, dia satu kelompok sama aku,” ucapku.

“Yang mana sih?” tanya Putra.

“Itu yang lagi baca mading,” jawabku sambil menunjuk.

“Ohh itu, itu kan adenya temen saya.” Jawab Putra

“Iya tah?” Tanyaku..

“Iya, serius,” jawabnya.

Hari kedua dia mulai mendekatinya, berbincang dengannya dan berbuat jahil dengannya agar bisa lebih dekat. Hari ketiga adalah hari terakhir, Priyo sudah mulai dekat dengannya dan dia berbuat jahil agar bisa lebih dekat lagi. Dia sebenarnya sangat sedih karna itu merupakan hari terakhir untuk bersama dengan si perempuan itu.

Ketika malam hari di hari ketiga, perempuan itu mulai menghubungi lewat akun sosial. Dan priyo mulai mengajak chat lewat akun sosial tersebut. Semakin hari semakin dekat lewat akun sosial tersebut. Mereka selalu berbagi cerita dan setelah tiga hari, Priyo bercerita tentang isi hatinya ke perempuan tersebut. Tenyata mereka saling menyukai, setelah perempuan itu juga menceritakan isi hatinya bahwa dia menyukai Priyo. Mereka menjalin hubungan tak lebih dari teman biasa.

Mereka baru dekat selama beberapa minggu. Namun cinta mereka sudah diuji. Perempuan itu mendapat nilai yang kurang baik, setelah berteman dengan Priyo. Hal itu yang membuat pertemanan mereka bermasalah. Hubungan mereka menjadi kurang baik. Awalnya Priyo merasa aneh dengan tingkah laku perempuan itu. Namun setelah Priyo menyeledikinya, akhirnya dia mengetahui penyebabnya.

Semakin lama mereka semakin menjauh. Priyo berusaha tegar dan bisa mengiklaskannya. Priyo berkomitmen untuk berusaha agar tidak mengganggunya lagi selama di jenjang pendidikan.

“Aku akan berusaha agar tak menganggunya lagi, agar dia bisa fokus belajar dan tidak semakin menjauh,” gumamnya.

Dia sudah berusaha untuk melupakan perempuan itu selama 4 tahun , namun dia tidak berhasil melakukan itu. Priyo kini telah mempunyai karir yang sukses di kota lain, dia berhasil mewujudkan cita-citanya dan telah menjadi tenar. Namun Priyo masih sendiri, belum mempunyai pasangan, dia belum pernah jatuh cinta kepada perempuan lain. Mungkin karna dia masih mencintai perempuan itu.

Priyo menjadi risau di tempat kerjanya. Lalu teman baiknya mendekatinya lalu menanyakan.

“Apa yang terjadi?” Tanya temannya.

Namun Priyo berusaha menutupinya karena malu. Setelah temannya memaksa , akhirnya dia menceritakan masalahnya kepada temannya di tempat kerjanya.

Lalu temannya memberi saran.

“Bagaimana kalau kamu kejar lagi cintamu itu,” saran temannya.

“Tapi aku takut,” jawabku.

“Kenapa takut? ” Tanya temannya.

“Aku takut gagal lagi,” jawabku.

“Sudah lakukan saja, berhasil atau gagal itu belakangan. Tapi kamu harus optimis berhasil, siapa tau itu emang jodoh kamu,” jawab temannya.

“Baik lah, akan ku coba.” Jawab Priyo dengan semangat.

Dia menuruti saran temannya itu, lalu dia kembali ke kota asalnya untuk mengejar cintanya. Dia berusaha mencari perempuan itu. Setelah beberapa minggu, usahanya tak sia-sia. Dia berhasil menemukan perempuan itu.

Priyo mulai menghubingi perempuan itu. Perempuan itu ternyata menunggu Priyo karena sebenarnya dia masih mencintai Priyo. Mereka mulai dekat kembali. Semakin lama, mereka semakin dekat. Tiga tahun kemudian mereka melanjutkan hubungan mereka ke pelaminan.

Mereka kembali bersama setelah berpisah dalam waktu yang lama, mereka hidup menjadi keluarga yang bahagia. Mereka ibaratkan manisnya madu. Manis tak akan jauh dari madunya. Jika manis menjauh, pasti akan kembali lagi kepada madu. Karena madu dan manis selalu bersama.